Halo, Fairies! Pernah nggak sih, kalian selesai membaca sebuah novel, menutup bukunya, lalu merasa rindu? Bukan rindu pada naganya, atau pada kastil megahnya. Tapi rindu pada orangnya. Rindu pada karakter-nya. Kalian merasa mereka itu nyata, seperti teman lama yang baru saja pamit pulang. Itulah kekuatan dari "Karakter yang Tak Terlupakan". Kali ini, kita akan masuk ke dapur penulisan. Kita tidak akan bicara soal plot twist dulu. Kita akan bicara soal jiwa. 1. AKAR IDENTITAS (Backstory sebagai Kompas) Fairies, kesalahan terbesar penulis pemula seringkali adalah menganggap karakter sebagai "boneka" yang digerakkan oleh plot. Padahal, karakter yang hebat adalah penggerak plot. Untuk membuat karakter hidup, kita harus mulai dari akarnya: Identitas dan Latar Belakang (Backstory). Bayangkan karakter kalian seperti pohon. Apa yang terlihat di permukaan seperti dialog mereka atau tindakan mereka, itu cuma dahan dan daun. Tapi, seberapa kuat pohon itu berdiri ditentukan ole...