[Hanya Figuran Tak Terkalahkan] Chapter 3
Hirose Yoshino. Nama itu terasa familiar, tapi juga asing. Sepertinya dia bukan berasal dari Kerajaan Fordburg Negro atau pun kerajaan lain yang ada di benua Samsara. Mungkin dari suatu tempat yang jauh entah apa itu.
“Kau bilang kemarin ingin tahu namaku kan? Aku sudah mengatakannya,” ujar Rose yang seketika saja membuatku terasa tertampar. Apa yang sebenarnya dilakukan Basil yang asli sebelumnya? Apa dia menggoda setiap perempuan yang terlihat manis? Entahlah, tapi mungkin saja benar.
“Oh, ya, salam kenal,” jawabku singkat.
Rose menatapku dengan bola mata bulatnya yang beberapa kali berkedip. Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan olehnya saat ini. Sepertinya akan lebih baik bila aku abaikan saja.
“Kalau begitu, aku duluan, ya,” kataku sambil mengalihkan pandangan dan kembali melangkah meninggalkan Rose.
Belum juga aku jauh melangkah, terdengar suara yang cukup nyaring dari luar. Seketika saja aku pun berlari. Aku harap kakek tua itu tidak apa-apa.
Ah, tepat seperti dugaanku. Sayuran berserakan di sana. Gerobak sayur itu telah terjatuh dan menghamburkan semua isinya. Kakek Santos tampak menangis di samping gerobak sambil memegangi kepalanya.
“Siapa yang telah melakukan ini?” tanyaku tegas sembari mengedarkan pandangan mataku. Di antara pandangan mata iba para penduduk yang melihat ke arah Kakek Santos, aku dapat menemukan dua orang laki-laki berbadan tambun dengan baju terbuka yang tertawa cekikikan.
“Hey, kalian berdua.” Aku menunjuk kedua lelaki tambun itu dengan jari telunjukku. Mataku nyalang menatap mereka. Aku tahu betul siapa mereka, kawanan berandalan yang sering berbuat ulah di alun-alun Kerajaan Fordburg Negro. Dalam cerita asli, mereka dibuat babak belur oleh Louis karena menginjak tanaman obat yang Louis bawa.
Apa aku harus menunggu hingga Louis datang? Tentu saja tidak. Aku tidak peduli pada jalan cerita, tapi yang jelas aku tidak ingin ditindas oleh orang lain meski sekarang hanya menjadi seorang tukang sayur.
“Ini pasti ulah kalian berdua kan?” tanyaku dengan lantang masih dengan tatapan sinis. Kedua pria tambun itu malah semakin tertawa. Aku juga dapat melihat orang-orang mulai menjauh dari mereka, tapi tetap memperhatikan.
“Sudahlah Basil, kita bereskan saja ini,” ujar Kakek Santos. Aku tahu, dia memang selalu menjadi karakter yang dirugikan karena gerobaknya jatuh.
“Tidak bisa. Mereka harus bertanggungjawab!” seruku tegas. Kakek Santos tidak berkata apa pun selain menatapku dengan tatapan penuh khawatir.
“Apa yang terjadi?” terdengar suara Rose yang baru saja keluar dari penginapan. Bukan hanya Rose saja yang bingung, orang lain yang ada di sekitar pun sama bingungnya.
“Kau berani dengan kami?” tanya si gembul yang memiliki anting di sebelah kanan daun telinganya.
“Kalian yang berbuat salah, maka kalian yang harus bertanggungjawab!” bentakku lagi.
“Kakak, dia sepertinya ingin diberi pelajaran,” ujar si gembul yang sedikit lebih pendek dari orang yang dipanggil kakak. Dia memiliki anting di hidung kirinya. Ah, penampilan mereka tidak ada menariknya. Masih jauh lebih tampan diriku.
“Jangan seenaknya bicara. Kau ingin aku patahkan tanganmu?” tanya si kakak dengan suaranya yang keras. Semua orang terlihat khawatir, tapi tidak berbuat apa pun. Mereka pasti tidak ingin ikut campur dan jadi korban dua berandalan ini.
“Coba saja kalau kau bisa,” ujarku penuh percaya diri.
“BASIL!” Lilen berseru dengan nada khawatir. Aku dapat menyadari dari getaran suaranya.
Aku tidak menoleh. Aku masih berfokus pada dua berandalan itu. Bukankah orang yang berani berbuat adalah orang yang berani bertanggungjawab? Maka mereka harus bertanggungjawab, bila tidak, maka aku akan menghajar mereka hingga memohon ampun.
“Heh, kau anak tukang sayur bisa apa? Badanmu bahkan tidak sebanding dengan kami,” cecar si adik berandalan.
Aku menyunggingkan senyum. Semasa aku hidup, diriku sering berlatih bela diri dan bahkan sering menjuarai kompetisi nasional. Setidaknya kemahiranku ini jadi modalku untuk bertahan di dunia baruku ini.
“Basil, jangan berurusan dengan mereka. Aku tidak ingin kau terluka.” Kakek Santos tiba-tiba saja menarik lengan kiriku. Kakek ini pastilah sangat khawatir dengan kehidupan cucunya ini.
Aku menghembuskan napas pelan kemudian melirik Kakek Santos dan tersenyum. “Kakek jangan khawatir.”
Sesaat kemudian bola mata Kakek Santos membelalak. Dari retina matanya, aku bahkan dapat melihat si berandal paling tua mulai melesatkan tinjunya ke arahku.
“Awas.” Aku mengelak ke kiri sembari merangkul Kakek Santos. Alhasil, berandalan tua itu hanya meninju angin.
“Kakek pergilah ke tempat Nyonya Lilen,” ujarku sambil menatap Kakek Santos dengan lekat. Dari ekspresinya aku dapat menebak kalau Kakek tua ini masih terkejut dengan elakanku yang tiba-tiba. Meski begitu, Kakek Santos mengangguk dan patuh menjauh ke tempat Lilen berada.
“Lihat ke mana kau?” ujar si berandal sambil melancarkan serangannya.
Meski badan Basil kurang terlatih, tapi setidaknya staminanya cukup banyak. Mungkin karena dia sudah terbiasa menarik gerobak sayur setiap hari.
Serangan tinju dari berandalan tua itu berhasil aku elak dan aku pun langsung saja membalas dengan sebuah tinju yang tepat mengenai pipi kirinya. Badannya pun langsung terhuyung beberapa langkah ke samping.
“Kakak!” Adik berandalan itu terkejut, tapi bukan hanya dia saja. Kakek Santos, Lilen, Rose, dan orang-orang yang ada di sekitar pun sama terkejutnya.
“Kurang ajar! Beraninya kau menyentuh wajahku yang tampan ini.” Berandalan itu melotot tidak terima. Aku hampir saja tertawa mendengar perkataannya.
“Tampan? Kau bercanda?” Aku menyunggingkan bibirku. Dia pun kembali menyerang, tapi aku berhasil merunduk lalu meninju bagian perutnya cukup kuat hingga dia terkapar tidak sadarkan diri.
“K-kau!” Adik berandalan itu terlihat panik melihat kakaknya sudah tidak berdaya. Meski aku tidak membunuhnya, tapi tentu saja itu sudah membuatnya malu.
“Rasakan in-“ Belum juga berandalan itu menyelesaikan kalimatnya, aku sudah melesatkan kakiku ke kepalanya hingga dirinya terpental cukup jauh kemudian tidak sadarkan diri.
Semua orang menatapku tidak percaya. Rasanya tidak nyaman bila diperhatikan oleh banyak orang, tapi aku tidak ingin peduli. Setidaknya mereka tahu kalau apa yang mereka lihat adalah balasan bagi siapa pun yang berani menyentuh gerobak sayur Kakek Santos.
Aku menggerakkan kakiku ke kanan dan kiri. Meski aku bisa meninju dan menendang dengan cukup kuat, tapi badan ini tetap harus aku latih. Aku pun harus waspada kalau suatu hari nanti para berandalan ini akan datang lagi untuk balas dendam.
“Basil, apa kau tidak apa-apa?” tanya Kakek Santo. Ekspresi ketidakpercayaannya terlihat jelas dari raut wajahnya.
“Aku tidak apa, Kek,” kataku yang kemudian mulai membangkitkan gerobak sayur dan mengambil sayuran yang tercecer. Tentunya aku hanya mengambil sayur yang masih bagus.
“Ah, bagaimana ini, Kek? Hanya setengahnya yang bisa diselamatkan,” ucapku sambil menghembuskan napas.
“Setidaknya kau baik-baik saja,” jawab Kakek Santos.
“Basilio, kau membuat kami semua khawatir.” Nyonya Lilen menghampiri dengan kening mengkerut.
“Maafkan aku Nyonya, sudah membuat keributan di depan penginapanmu,” kataku sambil mengelus belakang kepala.
“Nyonya, aku sudah mengambilnya.” Rose datang terburu-buru membawa sebuah kotak kayu kecil. Nyonya Lilen langsung membukanya dan mengambil sebuah botol berbentuk bulat yang berisi cairan berwarna biru muda.
“Minumlah, kau harus menghabiskannya.” Nyonya Lilen memberikannya padaku setelah membukakan tutup botolnya.
**
Hanya Figuran Tak Terkalahkan
Oleh: ilmalaila22
**